Sahabat yang Bertengkar

Shanhaji, begitulah santri pendiam itu biasa disapa. Hatinya resah bukan buatan lantara menyaksikan dua sahabatnya, Zaid dan Umar berseteru. Padahal dulunya begitu akrab. Bahkan, oleh sebagian santri dikatakan, di mana ada Zaid pasti Umar ada. Ketika nongkrong sehabis jam belajar, ngantri mandi, musyawarah dan lain-lain, yang terlihat kompak mesti keduanya. Tetapi kini seperti telah berubah. Kedua sahabat itu telah mengakhiri persahabatan dengan alasan tak jelas dan inilah yang membuat shanhaji resah.

Shanhaji merayu Zaid untuk meminta maaf, Zaid menolak, “Enak saja. Umar duluan, dong. Yang salah dia. Mana bisa saya minta maaf duluan.”

“Tetapi meminta maaf duluan itu lebih baik, kawan. Ada disebutkan dalam Hadits.”

Zaid tetap bersikukuh menolak. Shanhaji kehabisan cara. Ia datangi Umar dan mulai merayu. Umar pun demikian. Malah shanhaji kena marah, “Kau siapa? Nyuruh saya minta maaf. Lagi pula yang berurusan saya, bukan kau. Terserah saya. Mau musuhan, mau berteman.”

“Tetapi sesama santri tidak baik bersikap demikian, cah. Kiai mengajarkan. Kitab juga menjelaskan.”

“Tak perlulah bawa-bawa kiai dan kitab dalam urusan ini. Tak perlu sok bijak, kamu.”

Shanhaji kehabisan cara. Ia hampir menyerah. Beruntung, idenya muncul ketika melihat jejeran baju yang tergantung di pengait. “Ini ikhtiar saya yang terakhir, siapa tahu berhasil.” Harap Shanhaji dalam hati.

Mula-mula shanhaji mengambil dua carik kertas. Ia mulai menulis dua surat permohonan maaf atas nama Zaid dan Umar. Dengan bahasa sesederhana dan sebaik mungkin. Bismillah, shanhaji memasukkan dua buah surat itu ke saku zaid dan umar. Kini tibalah saatnya ia berharap-harap.

Zaid terperangah tatkala didapatinya sepucuk surat permohonan maaf di sakunya. Ia mulai merasa bersalah telah bersikap angkuh pada temannya sendiri. Pun umar juga terkaget tatkala membaca surat permohonan maaf atas nama zaid. Bukan isi suratnya yang penting bagi umar, tetapi ia sadar, betapa ia terlalu angkuh. Betapa zaidn adalah sahabat terbaiknya, yang meski ia benar, tetapi meminta maaf duluan. Umar mulai malu pada dirinya sendiri.

Ke esokan harinya, ke dua sahabat itu mulai malu-malu untuk saling bertegur sapa. Terlihat jelas dari tingkah mereka yang kikuk setiap kali berpapasan. Shanhaji bersyukur dalam hati. berarti permusuhan mereka hanya didasari gengsi. Pada dasarnya kedua sahabat itu masih sama-sama tidak mau terjebak dalam permusuhan.

Untuk merayakan itu, shanhaji mengajak ke dua temannya itu makan ke kantin. Tentu saja masih terlihat kikuk dan ada kesan sama-sama menjaga image. Tetapi tatkala shanhaji mulai mengakhiri acara makan-makan itu, barulah tawa keduanya pecah, “Karena saya yang berjasa, maka kalian berdua harus tanggung uang tagihan saya, 10.000 rupiah. Senilai dengan harga penipuan kalian padaku tempo hari. Dengan alasan lapar kalian tipu saya. Kini, dengan alasan persahabatan, aku tipu kalian.” Shanhaji langsung berlalu ngacir.

Tawa mereka bertiga pecah dan suasana kembali cair seperti semula.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top