Santri dan Ayam

Alkisah, sehabis mengajar ilmu Tauhid, seorang kiai memanggil tiga orang santrinya untuk menghadap. Dengan penuh sopan santun, sebagaimana yang diajarkan di pesantren, tiga santri itu menghadap kiainya.

Syahdan, kiai itu bertitah; kalian bertiga, nanti, setelah malam benar-benar memabukkan masyarakat, kalian bertiga keluarlah mencuri ayam. Jangan sampai ada yang tahu. Siapa pun!

Malam ketika masyarakat sudah mulai terbuai di balik selimut mereka, tiga santri itu mulai menjalankan titah kiainya. Mereka berpencar dalam tiga lokasi. Setelah dua jam lebih, ketiga santri itu sudah kembali berkumpul di hadapan kiainya.

“Dulla, ceritakan operasimu!”

“Saya mulai mengendap-endap di kurung ayam milik Mang Imin. Sebenarnya, sempat terlihat ada yang bangun. Tetapi berungtung, tidak ada yang tahu aksi saya, kiai. Saya bisa buktikan bahwa besok mang imin merasa kehilangan ayam namun tak tahu harus menaruh prasangka pada siapa. Ini ayamnya, kiai.” Jawab Dulla bangga.

“Kau, sumin! Kabarkan padaku.”

“murni tak ada yang melihat, kiai. Semua penghuni rumah terlelap tak ada satu mata pun yang menyaksikan operasiku. Saya berhasil, kiai. Meski ini baru pertama, tetapi saya mampu mencuri dengan cara para pencuri sungguhan. Ini bukti ayamnya, kiai. Putih warnanya.” Terang Sumin sambil melirik ke arah Dulla.

Kiai manggut-manggut dan memasang senyum.

“Sekarang, kau Addul. Bagaimana?”

Addul mendesah. Di pangkuannya tak terlihat seekor ayam. Ia mulai ragu-ragu mengisahkan operasi yang gagal. Dulla dan Sumin tersenyum sinis. “Pasti ketahuan, kau.” Sumin menebak dengan nada melecehkan.

“Payah! Besok kiai akan menerima makian masyarakat gara-gara kau. Seharusnya kau berusaha untuk membahagakan kiai. Bagaimana bisa manfa……”

“Cukup Dulla,” Kiai memotong. Dulla meminta maaf, “Biarkan Addul menerangkan dulu apa yang dia alami. Jangan langsung menuduh. Kau belum tahu apa yang terjadi. Ceritakan, anakku,” pinta kiai.

“Ketika saya mulai mengendap-endap, tak ada satu pun penghuni rumah terbangun. Bahkan, kambing di dekat rumahnya diam tak mengembik. Saat itulah, saya berhasil mengambil seekor, kiai. Bukan main bahagianya saya. Setiap menyentuh bulu-bulu halus ayam itu, saya seperti telah berhasil mendapatkan keridaanmu, kiai. Tetapi kemudian saya teringat pada pelajaran sebelum kiai mengutus kami bertiga mencuri.”

“Benar kiranya, saya mulai ragu-ragu untuk melangkah pulang. Bagaimana mungkin saya merasa berhasil mencuri, jika Dia tak pernah Terlelap, Dia tak pernah kecolongan sedikitpun. Bahkan, dia melihat sejak sebelum saya mencuri. Bukankah kiai yang menerangkan bahwa Allah melihat seluruh gerak-gerik kita? Jadi bagaimana saya bisa merasa tidak yang mengetahui garak-gerik saya, sedangkan kiai menerangkan hal itu baru beberapa jam yang lalu. Akhirnya saya memutuskan untuk mengembalikan ayam itu ke kurungnya. Saya sebenarnya mau minta maaf karena lebih mengikuti kata hati saya dari pada titah kiai. Maafkan santrimu ini, kiai!”

Kiai tersenyum puas. Ditatapnya Addul dengan wajah berseri. Bukan main bahagianya kiai mendapati kisah santrinya itu. “Itulah Dulla, Sumin, apa yang aku harap. Addul telah mengamalkan ilmunya dengan baik. Perintah saya, apalah artinya jika ternyata mengarah ke neraka. Allah maha melihat. Addul merasa seluruh gerak-geriknya tidak aman dari awasan allah, maka dia urungkan diri untuk bermaksiat. Sementara kau berdua, merasa telah mengikuti perintah kiainya, tetapi lupa pada arah mana perintah itu menuju. Kalian bahkan tidak ingat bahwa ada perintah dan larangan allah yang harus lebih kalian perhatikan untuk menjalani hidup ini.”

“Maafkan kami, kiai.” Dulla dan Sumin bersamaan.

“Besok kalian berdua panggil pemilik ayam itu ke sini. Biar saya yang jelaskan. Kalian istirahatlah dan mulai mengamalkan kebaikan yang kalian tahu. Ingat, Allah Maha Melihat!”

Ketiga santri itu takzim dan pamit undur diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top